Dampak Seruan Boikot Produk Zionis Israel Terpukul

Koran Marker ?yang berafiliasi dengan Israel dalam edisi terbarunya menulis, pada ?beberapa bulan terakhir boikot produk Israel berdampak bagi 21 persen ?ekspor rezim ini.

Angka ini berdasarkan riset badan perdagangan ?Zionis bulan Februari lalu. Riset tersebut dilakukan terhadap 100 ?perusahaan Israel yang aktif di sektor ekspor produk teknologi tinggi, ?logam, produk kimia, bahan makanan dan bangunan.?

Sementara itu, Koran Guardian Inggris dalam laporan terbarunya mengatakan,  eksportir di Israel melaporkan penurunan permintaan semenjak serangan ke Jalur Gaza

Menurut Guardian, perusahaan Israel merasakan dampak boikot yang bergerak cepat di Eropa. Menurut survei, kekhawatiran Israel terhadap sektor usahanya terus tumbuh setelah serangan ke Gaza tersebut.

Pekan lalu, Perkumpulan Pengusaha Pabrik Israel (Israel Manufacturers Association) melaporkan, 21% dari 90 eksportir lokal yang ditanyai merasakan langsung dampak penurunan permintaan karena isu boikot, terutama dari Inggris dan negara-negara Skandinavia. Bulan lalu, sebuah laporan dari Institut Ekspor Israel menyebutkan, 10% dari 400 eksportir yang ditanyai menerima pemberitahuan pembatalan pesanan tahun ini, karena serangan terhadap Israel dari Gaza.

“Tidak ada keraguan bahwa lampu merah telah diaktifkan,” ujar Dan Katrivas, Kepala Departemen Perdagangan Asing di Israel Manufacturers Association, kepada koran Maariv minggu ini.

“Kami sangat berat dengan apa yang terjadi atas kegiatan eksportir yang sedang menemui masalah. ” Dia menambahkan, di Inggris ada “masalah khusus mengenai ekspor produk pertanian dari Israel”.

Masalah utama, kata Katrivas, terhadap barang-barang yang berasal dari permukiman Yahudi di Tepi Barat (yang mengusir pemukiman penduduk Palestina). (more…)

Masjid Al Aqsa di Jerusalem dalam Bahaya

KOMPAS.com — Kelompok Yahudi ekstrem, Kamis (16/4), mencoba menembus kompleks Masjid Al Aqsa di Jerusalem Timur dalam peringatan perayaan hari besar agama Yahudi. Mufti kota Jerusalem Timur (Al Quds) dan Imam Masjid Al Aqsa, Sheikh Akrama Sabri, memberi peringatan keras soal dampak negatif jika kaum Yahudi terus memaksa menembus kompleks Masjid Al Aqsa itu.

Menlu Palestina Riyadh Maliki, Rabu (15/4) di Ramallah, menggelar pertemuan dengan para duta besar dan diplomat asing untuk Palestina. Menlu Maliki menyampaikan bahaya aksi Israel yang terus melakukan proyek Yahudinisasi kota Jerusalem Timur dan rencana kaum Yahudi memasuki kompleks Masjid Al Aqsa.

Maliki menegaskan, Yahudinisasi kota Jerusalem Timur akan membuyarkan proses perdamaian. Kota Jerusalem memang sarat konflik sepanjang sejarah. Kini, hampir tidak ada hari dan bahkan tidak ada jam tanpa aksi Israel melakukan Yahudinisasi Jerusalem Timur.

Ketika rakyat Palestina dan bangsa Arab merayakan Jerusalem Timur sebagai ibu kota kebudayaan, Maret lalu, Israel secara bersamaan meluncurkan proyek Yahudinisasi di kawasan kompleks Masjid Al Aqsa.

Kota Jerusalem Timur adalah kota suci bagi ketiga agama Samawi, yakni Yahudi, Kristen, dan Islam. Kota suci tersebut yang diimpikan rakyat Palestina menjadi ibu kota negara kelak.

Pakar geologi Israel telah bekerja selama 39 tahun untuk penggalian di sekitar kompleks Masjid Al Aqsa. Meir Ben David, pakar itu, mengungkapkan, menjelang berdirinya negara Israel pada 1948, sesungguhnya pimpinan zionis berbeda pendapat apakah menduduki atau menerima status quo Jerusalem sebagai kota internasional.

PBB, pada 1947, membagi wilayah Palestina menjadi dua, yaitu wilayah Arab dan Yahudi. Jerusalem diputuskan sebagai kota internasional di bawah kontrol internasional. Namun, Yahudi ekstrem memilih menduduki kota Jerusalem dan mendapat dukungan lebih besar. Pimpinan zionis saat itu memilih mencapai kesepakatan dengan Jordania dengan membagi Jerusalem. Kemudian Israel menduduki Jerusalem Barat, dan Jordania menguasai Jerusalem Timur. Masyarakat internasional tak mengakui realitas baru kota Jerusalem, kecuali Inggris dan Pakistan.

PBB menolak pemecahan Jerusalem tersebut. Pada 1949, PBB mengecam aksi sepihak Israel yang membalas dengan mendeklarasikan kota Jerusalem sebagai ibu kota Israel dan memindahkan lembaga pemerintah dari Tel Aviv ke Jerusalem.

Sejarawan Israel, Aharon Lieran, mengungkapkan, pada 14 Mei 1948, militer Israel mendapat tekanan dari sejumlah pemimpin politik dan organisasi untuk menguasai Jerusalem Timur. Pada hari itu, pasukan kolonial Inggris telah meninggalkan kota Jerusalem Timur. (more…)